Pages

Kamis, 20 Maret 2014

Penyihir Cilik

Hei, Malam Walpurgis!

PENYIHIR CILIK tidak gentar mendengar ramalan Abraksas. Malam itu ia mengendarai sapu ajaibnya, terbang ke puncak gunung yang bernama Blocksberg.
            Para penyihir yang lebih tua daripada Penyihir Cilik udah berkumpul di puncak gunung. Mereka menari-nari mengelilingi api unggun. Rambut mereka yang panjang beterbangan, sedang gaun yang mereka kenakan melambai-lambai liar. Saat itu berkumpul sekitar lima atau enam ratus penyihir. Jenisnya bermacam-macam. Ada penyihir gunung, penyihir hutan, penyihir rawa, penyihir kabut, penyihir cuaca, penyihir angin, dan penyihir rempah. Semuanya asyik menari-nari, berputar-putar sambil mengayun-ayunkan sapu ajaib masing-masing.
            “Malam Walpurgis!” ara penyihir itu bernyanyi, “Hei, Malam Walpurgis!” Suara mereka campur aduk. Ada yang parau, ada pula yang melengking, dan ada lagi yang mengembik seperti kambing. Mereka menari-nari sambil memerintahkan kilat dan guntur menyambar.
            Penyihir Cilik menyelipkan diri di tengah para penyihir yang asyik menari. Ia tidak ketahuan.
            “Hei, Malam Walpurgis!” ia menyanyi dengan lantang. Ia ikut berputar-putar mengelilingi api unggun. Smbil menari ia berpikir, Coba Abraksas bias melihatku sekarang. Pasti matanya akan terbelalak seperti mata burung hantu hutan!
            Sebetulnya ia bias tetap tidak ketahuan. Tapi malang baginya, ketika sedang menari-nari ia berpapasan dengan bibinya, Rumpumpel. Bibinya itu penyihir cuaca. Bibi Rumpumpel tidak suka main-main. Ia sok dan jahat!
            “Eh… sama sekali tak kusangka!” seru Bibi Rumpumpel ketika melihat Penyihir Cilik di tengah keramaian. “Kenapa kau ada di sini? Ayo, jawab! Tidak tahukah kau, penyihir yang masih kecil dilarang naik kemari malam ini?”
           

Jumat, 15 Februari 2013

Kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdil Aziz II


MENGHIDUPKAN SYI’AR ISLAM
Umar bin Abdil Aziz adalah khalifah dari Bani Umayyah yang berbeda dengan pembesar Bani Umayyah yang lain. Beliau membina dan membangun negara dengan mengutamakan nilai kerohanian tanpa mengabaikan nilai-nilai yang lain. Beliau juga membangun Negara Islam di Madinah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. dan para sahabat dulu. Selain sebagai kepala Negara, beliau juga membina kerohanian umat dengan berdakwah.

Perisai Diri


Sejarah berdirinya Perguruan Silat Perisai Diri

Perguruan Silat Perisai Diri didirikan oleh Bapak Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo, setelah melalui perjalanan panjang yang diawali oleh beliau sejak masih anak-anak. Raden Mas Soebandiman Dirdjoatmodjo adalah putera pertama dari R.M Pakoesoedirdjo, yang merupakan buyut dari Pakoe Alam ke II.
R.M. Soebandiman lahir di Pakoealaman pada hari Selasa Legi tanggal 8 Januari 1913. mulai usia 9 tahun sudah gemar pencak silat, sehingga mendapat kepercayaan untuk melatih teman-temannya di lingkungan daerah Pakoe Alaman. Disamping pencak silat juga belajar menari di Istana Pakoe Alaman, sehingga berteman dengan saudara Wasi dan Bagong Kusudiardjo.