Hei, Malam Walpurgis!
PENYIHIR
CILIK tidak gentar mendengar ramalan Abraksas. Malam itu ia mengendarai sapu
ajaibnya, terbang ke puncak gunung yang bernama Blocksberg.
Para penyihir yang lebih tua
daripada Penyihir Cilik udah berkumpul di puncak gunung. Mereka menari-nari
mengelilingi api unggun. Rambut mereka yang panjang beterbangan, sedang gaun
yang mereka kenakan melambai-lambai liar. Saat itu berkumpul sekitar lima atau
enam ratus penyihir. Jenisnya bermacam-macam. Ada penyihir gunung, penyihir hutan,
penyihir rawa, penyihir kabut, penyihir cuaca, penyihir angin, dan penyihir
rempah. Semuanya asyik menari-nari, berputar-putar sambil mengayun-ayunkan sapu
ajaib masing-masing.
“Malam Walpurgis!” ara penyihir itu
bernyanyi, “Hei, Malam Walpurgis!” Suara mereka campur aduk. Ada yang parau,
ada pula yang melengking, dan ada lagi yang mengembik seperti kambing. Mereka
menari-nari sambil memerintahkan kilat dan guntur menyambar.
Penyihir Cilik menyelipkan diri di
tengah para penyihir yang asyik menari. Ia tidak ketahuan.
“Hei, Malam Walpurgis!” ia menyanyi
dengan lantang. Ia ikut berputar-putar mengelilingi api unggun. Smbil menari ia
berpikir, Coba Abraksas bias melihatku sekarang. Pasti matanya akan terbelalak
seperti mata burung hantu hutan!
Sebetulnya ia bias tetap tidak
ketahuan. Tapi malang baginya, ketika sedang menari-nari ia berpapasan dengan
bibinya, Rumpumpel. Bibinya itu penyihir cuaca. Bibi Rumpumpel tidak suka
main-main. Ia sok dan jahat!
“Eh… sama sekali tak kusangka!” seru
Bibi Rumpumpel ketika melihat Penyihir Cilik di tengah keramaian. “Kenapa kau
ada di sini? Ayo, jawab! Tidak tahukah kau, penyihir yang masih kecil dilarang
naik kemari malam ini?”
