Pages

Kamis, 20 Maret 2014

Penyihir Cilik

Hei, Malam Walpurgis!

PENYIHIR CILIK tidak gentar mendengar ramalan Abraksas. Malam itu ia mengendarai sapu ajaibnya, terbang ke puncak gunung yang bernama Blocksberg.
            Para penyihir yang lebih tua daripada Penyihir Cilik udah berkumpul di puncak gunung. Mereka menari-nari mengelilingi api unggun. Rambut mereka yang panjang beterbangan, sedang gaun yang mereka kenakan melambai-lambai liar. Saat itu berkumpul sekitar lima atau enam ratus penyihir. Jenisnya bermacam-macam. Ada penyihir gunung, penyihir hutan, penyihir rawa, penyihir kabut, penyihir cuaca, penyihir angin, dan penyihir rempah. Semuanya asyik menari-nari, berputar-putar sambil mengayun-ayunkan sapu ajaib masing-masing.
            “Malam Walpurgis!” ara penyihir itu bernyanyi, “Hei, Malam Walpurgis!” Suara mereka campur aduk. Ada yang parau, ada pula yang melengking, dan ada lagi yang mengembik seperti kambing. Mereka menari-nari sambil memerintahkan kilat dan guntur menyambar.
            Penyihir Cilik menyelipkan diri di tengah para penyihir yang asyik menari. Ia tidak ketahuan.
            “Hei, Malam Walpurgis!” ia menyanyi dengan lantang. Ia ikut berputar-putar mengelilingi api unggun. Smbil menari ia berpikir, Coba Abraksas bias melihatku sekarang. Pasti matanya akan terbelalak seperti mata burung hantu hutan!
            Sebetulnya ia bias tetap tidak ketahuan. Tapi malang baginya, ketika sedang menari-nari ia berpapasan dengan bibinya, Rumpumpel. Bibinya itu penyihir cuaca. Bibi Rumpumpel tidak suka main-main. Ia sok dan jahat!
            “Eh… sama sekali tak kusangka!” seru Bibi Rumpumpel ketika melihat Penyihir Cilik di tengah keramaian. “Kenapa kau ada di sini? Ayo, jawab! Tidak tahukah kau, penyihir yang masih kecil dilarang naik kemari malam ini?”
           

 “Jangan bilang pada yang lain, Bibi!” Penyihir Cilik memohon. Ia sangat terkejut.
            “Tidak bias!” bentak Bibi Rumpumpel. “Penyihir lancing seperti kau perlu dihukum!”
            Sementara itu para penyihir lainnya datang mengerumuni karena mendengar Rumpumpel marah-marah. Penyihir cuaca yang jahat itu menceritakan apa yang terjadi. Setelah itu ia meminta pendapat mengenai apa yang harus dilakukan terhadap keponakannya yang bandel itu.
            “Dia harus dihukum!” seru para penyihir kabut seempak.
            “Dia harus diajukan ke depan Penyihit Tinggi!” pekik para penyihir gunung. “Sekarang juga kita ajukan dia!”
            “Ya, ya!” seru semua penyihir. “Tangkap dia, lalu seret ke Penyihir Tinggi!”
            Penyihir Cilik merengek-rengek minta ampun. Tetapi sia-sia saja. Bibi Rumpumpel memegang tengkuknya, dan menyeretnya untuk dihadapkan pada Penyihir Tinggi. Gelar itu tidak diberikan karena tubuhnya yang tinggi, melainkan kedudukannya. Ia kepala semua penyihir. Penyihir Tinggi duduk di atas singgasana. Keempat kaki kursi kebesaran itu terbuat dari garpu pengorek tungku. Kepala para penyihir mendengarkan laporan Bibi Rumpumpel. Keningnya berkerut. Usai mendengar laporan, Penyihir Tinggi menoleh ke arah Penyihir Cilik.
            “Kau berani dating ke Blocksberg walau itu terlarang bagi penyihir seumurmu?” bentak Penyihir Tinggi, suaranya menggelegar. “Kenapa kau sampai berani melakukannya, hah?”
            Penyihir Cilik gemetar ketakutan. “Aku sendiri tidak tahu sebabnya,” jawab Penyihir Cilik. “Tiba-tiba saja timbul keinginanku… lalu kutunggangi sapuku terbang kemari….”
            “Kalau begitu, cepat kautunggangi lagi sapumu, lalu terbang pulang!” perintah Penyihir Tinggi. “Ayo, pergi dari sini! Cepat, kalau kau tidak ingin aku marah!”
            Penyihir Cilik merasa Penyihir Tinggi bias diajak tawar-menawar. “Bolehkah, setidaknya, aku ikut menari tahun depan? Pintanya.
            “Hmmm…,” gumam Penyihir Tinggi. “Itu belum bisa kujanjikan sekarang. Jika sampai saat itu kau sudah menjadi penyihir yang baik, mungkin aku akan mngizinkan kau ikut. Sehari sebelum Malam Walpurgis tahun depan, aku akan memanggil Dewan Penyihir bersidang. Saat itu kau akan kuuji. Tapi ujian itu tidak enteng!”
            “Terima kasih, Penyihir Tinggi!” kata Penyihir Cilik. “Terima kasih banyak!”
            Ia berjanji akan sudah menjadi penyihir yang baik tahun depan. Setelah itu ditungganginya sapu ajaibnya. Maksudnya hendak terbang pulang. Tapi Bibi Rumpumpel memprotes.
            “Si Cilik bandel ini tidak dihukum?” tukasnya.
            “Ya, ya, dia harus dihukum!” eru semua penyihir cuaca. Mereka memanas-manasi Penyihir Tinggi.
            “Hukum! Hukum!” Kini semua penyihir berteriak-teriak. “Peraturan harus ditaati. Siapa datang mengikuti tarian penyihir, walau sudah dilarang, perlu diberi pelajaran pahit!”
            “Sebagai hukuman, tidak ada salahnyajika I bandel ini lemparkan sebentar ke dalam api,” usul Bibi Rumpumpel. Penyihir bukan manusia biasa, jadi kalau dilemparkan ke dalam api, paling-paling hanya sakit sedikit. Mungkin sama seperti dicubit.
            “Bagaimana jika dia kita kurung selama seminggu?” tanya penyihir lainnya. Entah kenapa, penyihir jenis ini disebut Penyihir Garing. Ia meneruskan, “Di rumahku ada kandang angsa yang kebetulan sedang kosong….”
            “Aku tahu ide yang lebih baik!” kata seorang penyihir rawa. ”Serahkan saja dia padaku, nanti kubenamkan dalam kubangan lumpur sehingga hanya kepalanya saja yang tersembul ke luar!”
            “Tidak, jangan,” bantah para penyihir rempah. “Serahkan saja pada kami, biar kami cakar mukanya habis-habisan!”
            “Jangan Cuma itu saja.” Sergah para penyihir angin. “Dia juga perlu dipukuli!”
            “Dengan ranting-ranting kayu!” desis para penyihir gunung.
            “Dan tangkai sapu!” Bibi Rumpumpel menyarankan.
            Penyihir Cilik menggigil ketakutan mendengar segala ancaman itu. Kalau begini, bisa gawat keadaanku, katanya dalam hati.
            “Perhatian!” kata Penyihir Tinggi, ketika semua penyihir mengutarakan pendapat mereka. “Jika kalian menghedaki Penyihir Cilik dihukum…”
            “Ya, ya… kami menghendakinya!” seru para penyihir beramai-ramai. Suara mereka ingar-bingar. Tapi Bibi Rumpumpel yang paling nyaring suaranya.
            “… kusrankan agar sapunya kita ambil, lalu kita suruh dia pulang jalan kaki!” lanjut Penyihir Tinggi. “Dia harus berjalan tiga hari tiga malam untuk sampai di rumah. Itu sudah cukup.”

            “Belum!” teriak Rumpumpel. Tapi menuut yang lain, hukuman itu sudah cukup berat. Sapu Penyihir Cilik dirampas. Sambil tertawa-tawa para penyihir lainnya melemparkan sapu itu ke dalam api, lalu mereka mengucapkan selamat jalan padanya.


aku lupa nama penerbit sama pengarangnya, pokoknya thank's deh. Bagus banget ceritanya ^^

0 komentar:

Posting Komentar