MENGHIDUPKAN SYI’AR
ISLAM
Umar bin Abdil Aziz adalah
khalifah dari Bani Umayyah yang berbeda dengan pembesar Bani Umayyah yang lain.
Beliau membina dan membangun negara dengan mengutamakan nilai kerohanian tanpa
mengabaikan nilai-nilai yang lain. Beliau juga membangun Negara Islam di
Madinah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. dan para sahabat
dulu. Selain sebagai kepala Negara, beliau juga membina kerohanian umat dengan
berdakwah.
Menjadi seorang Da’i
Dengan semua kebijakan
yang beliau punya, beliau menyerukan kepada umat agar memahami ajaran agama
yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan sebagai tanda
terima kasih kepada Allah dan Nabi Muhammad yang telah berjuang dalam
berdakwah, maka umatnya harus memegang teguh ajaran Islam dalam kehidupan
pribadinya. Karena bagaimanapun kondisi yang dihadapi, umat nabi Muhammad harus
berpegang erat kepada Kitab dan Sunnah-Nya.
Dalam menerima ajaran
tersebut, mereka harus konsekuen dan melaksanakannya sesuai dengan syariat yang
diberikan. Tidak mengurangi atau menambahi ajaran tersebut, karena akan
membuatnya tidak cocok dengan kemurnian ajarannya.
Khalifah Umar bin Abdil
Aziz berdakwah kepada amir, gubernur dan pegawainya, raja-raja, dan kaum ahli dzimmah (non-muslim yang selamanya rukun
dan berjanji damai dan mematuhi undang-undang Negara Islam. Berkat
kebijaksanaan dan kepribadian beliau sebagai teladan, banyak kaum Nasrani dan
Yahudi yang masuk Islam secara sukarela.
Beliau membaca laporan
tentang kemaksiatan yang terjadi dimana-mana dan mengirim surat kepada
gubernurnya agar dapat melaksanakan amar
ma’ruf nahi munkar tanpa pandang bulu. Terhadap bala tentara yang rusak
moralnya pun beliau tuntun dengan nilai agama dan budi luhur, mengajak mereka
kembali mengenal rasa cinta kasih, juga mengajak mereka untuk kembali
mendekatkan diri kepada Tuhan. Pembinaan kerohanian Islam seperti itu dapat
membuat tentaranya ingat kepada Allah dan Rasul sekaligus menjauhi perbuatan
dosa yang merusak kesucian mereka. Dengan begitu panglima tentara Bani Umayyah
yang awalnya terkenal bejat moralnya berubah menjadi pemimpin tentara yang
alim. Mereka yang dulunya dibenci oleh rakyat, kini menjadi tentara kebanggaan
rakyat.
Menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Politik
yang dijalankan oleh Umar bin Abdil Aziz adalah politik yang berdasarkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Artinya, dalam membangun Negara beliau menggunakan
nilai-nilai kebajikan dan membasmi segala kemungkaran yang dapat merusak
Negara.
Pembangunan
dalam suatu Negara dapat diwujudkan dengan amar
ma’ruf dan nahi munkar. Karena
pembangunan yang hanya didasarkan pada amar
ma’ruf akan menjadikan kota yang indah namun dengan penghuni yang rusak akhlaknya,
melahirkan manusia yang hanya mementingkan kemajuan materiil lahiriah,
melahirkan generasi yang bergelimang dengan nafsu serta filsafat hidup
kebendaan saja. Selanjutnya filsafat itu akan melahirkan krisis moral serta
krisis spiritual yang dahsyat.
Demikian
juga apabila nahi munkar tanpa amar ma’ruf akan menyebabkan tidak ada
ide, tidak ada kegiatan, dan tidak ada kemajuan dalam masyarakat. Bahkan tanpa amar ma’ruf dengan ide baru, masyarakat
tidak berjuang ke arah kehidupan yang sempurna dan lebih dinamis.
Umar
memecat pejabat-pejabatnya yang zalim lagi durhaka yang diangkat berdasarkan family dan kliek sisten, bukan
berdasarkan keahlian, kecakapan dan moral tinggi. Beliau mengangkat pejabat
baru berdasarkan effesiensi pekerjaan, the right man in the right place, yang
capable, bermoral dan berkarakter tinggi, dan yang terpecaya karena kesalehan
dan ketakwaannya.
Kaum
Bani Umaiyah dan kaum yang lain menuntut atas kebijaksanaan beliau. Mereka
ingin diberi jabatan pula. Namun, Beliau tidak memperdulikan reaksi mereka itu.
Tidak cukup sampai, bahkan beliau ambil segala harta yang bukan hak mereka yang
mereka ambil dengan cara tidak halal di kala mereka mempunyai wewenang dalam
pemerintahan. Beliau sita dan gabungkan dengan harta isteri beliau dan kemudian
beliau masukkan ke kas Negara (Baitul Mal).
Tokoh Kerukunan dan Memberantas Bid’ah
Di antara langkah pertama yang
dilakukan beliau dalam menjalankan tugasnya ialah, membarantas bid’ah yang
telah merajalela pada zaman khalifah sebelumnya, suatu perbuatan mungkar yang
merupakan warisan orde lama yang diterimanya.
Dendam
khasumat kaum Bani Umaiyah yang merupakan dosa besar yang diwariskan oleh
Khalifah-khalifah secara turun-temurun harus berakhir segera. Umat ini harus
bersatu rukun di bawah panji-panji Kalimah Tauhid yang satu, kiblat yang satu,
Kitab Al Quran yang satu, agama yang satu dan di bawah perintah Allah yang
satu. Semua sengketa yang berlajan dari masa ke masa selama puluhan tahun
sebelumnya, kini harus dihentikan.
Beliau
mengubah khutbah Jum’at yang selama pemerintahan bani Umaiyah menjadi ajang
untuk memperolok-olok Ali bin Abi Thalib beserta anak-cucu dan kaumnya. Beliau
mengeluarkan intruksi-intruksi ke seluruh dunia Islam agar membawakan khutbah
dengan gaya dan pola baru, para khatib telah dihadapkan beliau kepada halaman
baru dan rumus baru di seluruh negeri yang akan membuahkan alam perdamaiandan
kerukunan di kalangan masyarakat kaum muslimin.
Selanjutnya
beliau bersihkan bid’ah dan kemungkaran lain seperti, melarang orang
meratap-ratapi mayat yang dilakukan orang awam di rumah-rumah ataupun di jalan-jalan, melarang kaum wanita
turut mengantarkn mayat ke kubur karena biasanya perasaan yang terlalu halus
dan dalam serta imannya kebanyakan lemah,dan melarang niahah. Ia peringatkan pula rakyat agar menjauhkan diri dari
minum-minuman keras agar tidak terusak akal dan mentalnya karena lebih mudah
untuk menggelincirkan dan menyimpangkan dari ajaran agama bagi orang Nasara.
Untuk
menjaga keadilan dan kelancaran roda organisasi dan administrasi Negara, maka
beliau melarang para Gubernur dan pejabat-pejabatnyaberdagang untuk kepentingan
pribadi, keluarga maupun famili merka karena bisa menimbulkan hal-hal negative
yang mengganggu mereka dalam menjalankan tugasnya. Tetapi beliau tidak
melupakan nasib para pejabatnya dan untuk mencegang agar mereka tidak
menyeleweng dan khianat, Beliau menaikkan gaji mereka demikian tinggi sampai
tiga ratus dinar. Kurang lebih li ratus ribu rupiah.
Memadamkan Sengketa Antar Suku
Umar bin Abdil Aziz juga mewarisi
persengketa-persengketaan antar suku yang saling cekcok satu dengan lain dalam
perebutan kekuasaan di berbagai daerah, sehingga memakan korban dan pertumpahan
darah. Hal ini membuat beliau risau memikirkannya. Tetapi beliau tidak diam.
Untuk mencoba mengatasi persoalan ini, maka beliau kirimlah surat kepada
Gubernurnya. Dalam surat beliau yang panjang, jelas beliau mengajak para
perusuh yang telah membuat kekacauan di mana-mana itu supaya mengenangkan
nikmat Tuhan kepada bangsa arab yang semula adalah bangsa yang sesat,
miskin-melarat dan hidup dalam persengketaan yang terus menerus. Dan mereka
harus mensyukuri nikmat Tuhan yang telah mengirim seorang Rasul-Nya untuk
menyelamatkan mereka dari bencana yang sedang menimpa mereka semua. Dalam surat
lain beliau melukiskan bahwa rahasia kemenangan di medan pertempuran bukanlah
terletak kapada kekuatan senjata belaka, tetapi kekuatan akidah dan kebersihan
iman dengan menjauhkan diri dari berbuat dosa adalah lebih menentukan bagi
kemenangan itu daripada senjata yang bagaimanapun hebat modernnya.
Menghadapi Kaum Khawarij
Kaum
Khawarij ialah kaum yang pada mulanya adalah pengikut Ali bin Abi Thalib yang
turut berjuang dengan beliau menghadapi Bani Umaiyah. Tetapi setelah terjadi
“Tahkiem” yang tidak mereka setujui putusannya itu, maka akhirnya mereka keluar
dari pasukan Ali dan kemudian menyusun perlawanan kepada Ali dan kepada
Mu’awiyah. Kaum Khawarij kemudian menjadi kaum yang fanatik dan amat reaksioner
yang sama sekali tidak membenarkan orang lain sesama Islam kecuali diri mereka
sendiri. Tidak ada pemerintahan yang mereka akui, tidak Ali dan tidak pula
Mu’awiyah. Semboyan mereka satu : “Tidak
ada hukum yang patut ditaati kecuali hukum Allah.”
Demikian
kehebatan mereka sebagai seorang yang amat fanatic, tetapi tanpa disadari
mereka pada hakikatnya mereka merupakan lawan-lawan Islam dan kaum Muslimin,
sebab ajaran merekan dan sikap yang
mereka pertunjukkan dan keyakinan merka yang menganggap, bahwa semua orang di
luar golongan mereka adalah kafir. Bukti bahwa kaum Khawarij adalah kaum anarki
:
Pertama,
mereka memusuhi semua orang dan memaklumkan perang terhadap setiap orang yang
tidak termasuk golongan mereka.
Kedua,
mereka terpecah kepada golongan yang banyak jumlahnya dan bisa bertempur karena
sebab yang sangat aneh. Mereka gampang saja memberontak terhadap para pemimpin,
serta mengkafirkan dan menghalalkan darahnya.
Ketiga,
mereka mengkafirkan orang lain karena sebab yang sangat rremeh ataupun tanpa
sebab sam sekali.
Banyak
golongan yang mempunyai ajaran spesifik bagi golongannya. Tetapi yang paling
ekstrim ialah kaum Azariqah yang dipimpin Abu Rasyid Nafi’ Ibnu Azraq. Diantara ajaran yang ekstrim itu
dan merupakan bid’ah adalah :
1. Menyatakan kafir orang-orang Islam
selain dari golongan mereka dan halal membunuhnya.
2. Menyatakan kafir orang-orang yang
tidak ikut berperang.
3. Menyatakan halal membunuh kanak-kanak
dan kaum wanita dari golongan yang menantang mereka.
4. Meniadakan hukum rajam terhadap orang
yang berzina, karena hukum seperti itu tidak terdapat dalam Al-Quran.
5. Menetapkan bahwa anak-anak dari kaum
musyirikin juga akan dimasukkan ke dalam neraka bersama orang tua mereka.
6. Taqiyah (ajaran menyelamaatkan diri)
tidak boleh, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.
7. Menetapkan kafir orang-orang yang
telah berbuat dosa besar.
Umar bin Abdil Aziz
menghadapi kaum Khawarij dengan cara memerintahkan Gubernuh Kufah menghadapi
mereka, tetapi tidak boleh menumpahkan darah kecuali bila dalam keadaan
terpaksa.
Dengan gaya diplomasi dua
jalur, Umar bin Abdil Aziz dapat menundukkan kaum yang ekstrim dan radikal lagi
militant yang selam ini tidak pernah menyerah kepada suatu tekanan pemerintah
mana pun juga.
Kodifikasi Hadits Rasulullah
Sejak permulaan Islam, kaum Muslimin
telah mempunyai pegangan dalam menjalankan kehidupan dunia dan agama mereka,
yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Al-Qur’an berisi pedoman pokok dan garis
besar ajaran agama serta perintah agama. Sedangkan Sunnah adalah penafsiran dan
petunjuk yang lebih detail tentang pelaksanaan perintah agama.
Perintah
beribadah dan bermuamalah dalam Al-Qur’an dijelaskan oleh Hadits (Sunnah).
Tanpanya, kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan tepat dan sempurna. Karena
itu Sunnah juga dapat dikatakan sebagai tafsir Al-Qur’an. Hal itu didasarkan
pada pengertian bahwa tafsir Al-Qur’an yang paling otentik ialah tafsir
Al-Qur’an yang didukung dengan keterangan
atau dalil dari Sunnah sebagai penunjang kebenaran dan penjelasan isi
Al-Qur’an.
Yang dimaksud dengan
Sunnah adalah perkataan dan perbuatan Rasulullah serta taqrirnya (perkataan dan
perbuatan orang lain yang diucapkan atau dilakukan di hadapan beliau dimana
beliau bersikap diam tanpa reaksi).
Pada masanya, Rasulullah
melarang mencatat Hadits karena dikhawatirkan akan tercampur dengan catatan
Al-Qur’an. Kemudian masa-masa setelah itu, banyak peperangan yang terjadi dan
membuat para sahabat gugur. Oleh karena itu, Hadits dibukukan. Pembukuan
tersebut dilakukan setelah dibukukannya Al-Qur’an pada zaman Khalifah Usman bin
Affan, yaitu pada awal kurun abad kedua atau akhir abad pertama Hijriah dengan
tujuan untuk menjaga kemurniannya, juga agar terhindar dari hadits palsu.
Dalam beberapa catatan
disebutkan bahwa Umar bin Abdil Aziz memberikan perintah untuk menghimpun
hadits-hadits yang ada. Kemudian dengan dipatuhinya perintah tersebut, ilmu
pengetahuan hadits berkembang dan timbul banyak tokoh ahli hadits yang populer
hingga sekarang. Sehingga dapat dikatakan bahwa Umar bin Abdil Aziz mempunyai
andil yang besar dalam penghimpunan hadits ini.
IBADAH DAN AKHLAK UMAR BIN ABDIL AZIZ
Kebahagiaan
seseorang itu bukan dilihat dari materi yang dimilikinya, namun pengabdian yang
ditunjukkan dengan ibadah. Orang yang jiwanya bersih karena ibadahnya, akan
melahirkan perbuatan yang terpuji pula. Hal itu juga berlaku sebaliknya.
Seseorang tanpa ibadah tidak akan dapat untuk berlaku jujur dalam tugas yang
diembannya.
Apakah ibadah itu?
Ibadah
diartikan sebagai suatu pengabdian yang mencakup hal-hal yang diridhai oleh
Allah baik berupa perkataan ataupun perbuatan secara batin dan lahir. Begitu
pula ibadah juga bisa diartikan sebagai rasa takut kepada Allah, sabar
menjalankan hukum-Nya, syukur atas nikmat-Nya, ridha dengan ketentuan-Nya,
berserah diri pada-Nya, takut kepada azab-Nya, dan mengharapkan rahmat
dari-Nya.
Maksud
utama Tuhan menciptakan kita adalah untuk mengabdikan diri dan menyembah pada-Nya.
Demikian pula bagi Umar bin Abdil Aziz. Segala amalannya selama di dunia
ditujukan hanya untuk mencari ridha Illahi.
Shalatnya Umar bin Abdil Aziz
Shalat
adalah ibadah yang paling penting dan mempunyai peranan yang besar dalam
pembinaan akhlak manusia. Shalat membuat diri manusia ingat dan dekat dengan
Allah. Di samping itu, shalat juga dapat mencegah manusia melakukan tindakan
tercela.
Umar
bin Abdil Aziz selalu disiplin dan melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya
sesuai dengan cara Rasulullah melakukannya. Demikian pentingnya shalat itu,
sehingga beliau pun memerintahkan kepada para pejabat di daerah kekuasaannya
untuk memperhatikan shalat dengan benar.
Doa permohonannya kepada Tuhan
Manusia
adalah makhluk yang lemah, maka disamping berusaha dan berikhtiar ia perlu
meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa untuk menyampaikan cita-citanya.
Disinilah pentingnya doa. Manusia dengan segala kelemahannya perlu untuk
merendahkan diri di hadapan Tuhannya, memanjatkan doa agar segala usahanya
dapat berhasil sebagaimana yang diharapkan.
Umar
bin Abdil Aziz setiap hari dan malamnya memohon kepada Allah agar usahanya
berhasil dan mendapat ridha Allah di samping beliau bekerja keras dalam
membangun negaranya. Ibadah beliau pun didasarkan kepada rasa cintanya kepada
Allah.
Akhlak Umar bin Abdil Aziz
Dengan
latar belakang ibadah yang tinggi mutunya, Umar bin Abdil Aziz mempunyai moral,
budi pekerti, akhlak, dan tingkah laku yang mulia dan terpuji. Beliau selalu
mengambil tindakan berdasarkan kebenaran dan keadilan dalam semua amalannya.
Memulai dulu dengan mengucapkan salam dan 5 syarat
Umar
bin Abdil Aziz seklah pemimpin Negara tidak pernah mengharapkan penghormatan
yang tinggi dari rakyatnya. Bahkan beliau mengatakan pada pengawalnya bahwa
beliau adalah seseorang yang lebih patut untuk mengucapkan salam terlebih
dahulu.
Dan
apabila ada seseorang yang ingin bersahabat dengannya, beliau memberikan lima
prasyarat. Pertama, dia harus menyampaikan kebutuhan orang yang tidak mampu
menyampaikannya secara langsung padanya. Kedua, dia harus menunjukkankeadilan
yang seharusnya dilakukan. Ketiga, dia harus membantu dalam menegakkan
kebenaran. Keempat, dia harus menunaikan amanah kepadanya dan orang banyak.
Kelima, dia tidak boleh menggunjing seseorang di hadapannya.
Kerendahan hatinya
Umar
bin Abdil Aziz adalah seorang bangsawan. Namun beliau berjiwa kerakyataan dan rendah
hati. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa peristiwa. Suatu ketika,
beliau dipanggil dengan sebutan Khalifah Allah di bumi, maka beliau menolaknya.
Peristiwa lainnya adalah pada saat beliau bermalam dengan menterinya yang
bernama Raja’ bin Haiwah, tiba-tiba lampu menjadi rusak. Kemudian Raja’
beridiri untuk memperbaikinya, namun beliau melarang dan memperbaikinya
sendiri. Beliau juga berkata bahwa tidak sopan orang yang membuat tamunya
sebagai pelayan. Dan pada suatu ketika beliau meminta pelayannya untuk
mengipasinya hingga tertidur. Namun pelayannya pun ikut mengantuk dan tertidur.
Tatkala Umar terbangun, beliau berganti mengipasi pelayannya. Saat pelayannya
terbangun, dia menjadi malu dan takut. Tetapi beliau mengatakan bahwa mereka
sama kedudukannya sebagai manusia, yang juga sama merasakan kepanasan seperti
halnya beliau. Begitulah beberapa contoh perbuatan beliau yang menunjukkan
kerendahan hatinya.
Pemaaf dan penyantun
Tak pernah bohong
Zuhud dan Wara’
Zuhud dan wara’nya Umar bin Abdil
Aziz adalah sebagai berikut:
1. Tidak ambisi untuk mengejar pangkat
dan kedudukan
2. Sederhana dalam memakai kendaraan
3. Sederhana dalam pakaian dan makanan
4. Mendapat kesulitan pergi haji
5. Mengambil apel dari mulut anaknya
6. Tidak menerima hadiah
7. Berhari Raya dengan air mata
8. Takutnya kepada azab akhirat
Keadilan dan kebenarannya
1. Memecat para pejabat yang zalim
2. Mengembalikan hak milik yang dirampas
3. Menghadap hakim pengadilan
4. Mengembalikan gereja kepada kaum
Nasrani
5. Memberi kaum Mawali bagian rampasan
perang
6. Memberi nasihat kepada juru didik
anak-anaknya
NEGARA YANG AMAN-MAKMUR
Keamanan dan kemakmuran
adalah salah satu tujuan utama untuk membentuk suatu Negara, dan hal tersebut
dapat dicapai bila pemimpin negara mempunyai sifat bijaksana, adil, jujur,
serta perkasa lagi berani. Keseluruhan sifat tersebut ada pada diri Umar bin
Abdil Aziz. Beliau juga dapat memenuhi syarat-syarat sebagai kepala Negara.
Oleh sebab itu, Umar bin Abdil Aziz adalah suatu tipe kepala Negara yang ideal.
Dan apakah yang disebut
dengan negara yang makmur itu? Sebagian besar orang berpendapat bahwa
kemakmuran itu terjadi saat pemerintahan dapat memenuhi kebutuhan pokok
rakyatnya. Namun pada hakikatnya, sebuah negara dikatakan makmur apabila
kebutuhan jasmani dan rohani rakyatnya terpenuhi secara seimbang. Hal itu dapat
dilakukan secara sempurna oleh Umar bin Abdil Aziz. Sehingga pada masa
pemerintahan beliau, keadaan wilayah kekuasaanya dalam keadaan aman dari orang zalim
dan semua berjalan menurut proporsi yang berlaku secara adil dan wajar. Segala
sesuatu terletak pada tempat yang semestinya. Begitulah suasana yang dapat
menunjang dalam memakmurkan rakyat dan berjalan ke arah perubahan yang
menggembirakan.
BERPULANGNYA SEORANG KHALIFAH TELADAN
Termakan racun
Kaum
Bani Umayyah menaruh dendam kepada Umar bin Abdil Aziz dikarenakan beliau
mengurangi kemewahan yang biasa mereka nikmati. Seperti wali Allah yang
lainnya, beliau mengetahui siapa yang memasukkan racun dalam makanannya. Namun
mengetahui hal tersebut, beliau tidak menghukum orang yang telah mencoba
membunuhnya. Orang itu dilepaskan dan hukuman yang didapatkannya dari hati
nuraninya sendiri yang selalu mencela perbuatannya. Beliau juga meminta uang
bayarannya sebesar seibu dinar.
Pesan wasiat kepada anak-anaknya
Umar
bin Abdil Aziz sakit setelah memakan makanan dengan racun tersebut. Sebelum
kepergian beliau, Umar bin Abdil Aziz sempat ditanya apakah beliau tidak akan
meninggalkan harta kepada anak-anaknya dan membiarkan mereka dalam keadaan
miskin? Maka beliau menjawab bahwa lwbih baik baginya meninggalkan anaknya
dengan kemiskinan dan masuk surga daripada meninggalkan mereka harta melainkan
beliau masuk neraka. Beliau juga berpesan kepada anaknya agar menunaikan haknya
atas orang Islam maupun non-Islam yang
berjanji untuk hidup rukun. Beliau juga berpesan kepada mereka agar tidak takut
akan mengalami kemiskinan karena beliau telah menitipkan mereka kepada Allah.
Keajaiban di atas makam
Pada
saat keluarga dan umat Islam memakamkan beliau, ada sehelai kertas yang
melayang dan jatuh dari langit dan jatuh di atas kubur beliau. Tulisan tersebut berbunyi: “dengan nama Allah
yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Jaminan keselamatan dari Allah bagi Umar bin
Abdil Aziz dari sentuhan api meraka.
Harta peninggalannya
Beliau
adalah anak keturunan orang bangsawan yang kaya-raya, dan sebelum jadi Khalifah
memiliki kekayaan yang belimpah-ruah. Setelah beliau meninggaldunia sebagai
seorang khalifah yang zahid, dapat dikatakan bahwa semua hartanya yang banyak
itu telah diserahkannya kepada Negara untuk kepentingan umum dan dia hanya
berbelanja harian Cuma dua dirham saja bagaikan orang miskin layaknya. Dan
waktu meninggal dunia hartanya Cuma tinggal tujuh belas Dinar yang kemudian
dibagi-bagi untuk kepentingan penyelenggaraan pemakamannya seperti :
Lima
Dinar untuk kain-kafannya, dua Dinar untuk Tanah pekuburannya, sedang yang
sepuluh Dinar sisanya itulah kemudian dibagi-bagikan untuk anaknya yang sebelas
orang itu. Tetapi Allah S.W.T memperlihatkan kekuasaan-Nya, bahwa anak-anak
Umar bin Abdil Aziz yang miskin itu kemudian menjadi hamba-hamba Allah yang
saleh dan kaya-raya.
Umar
bin Abdil Aziz yang tampil ke atas panggung pemerinthan sebagai Kepala Negara
yang kaya-raya, tetapi kemudian hidup sebagai seorang yang amat sederhana dan
bahkan mendekati miskin. Menghadiahkan untuk rakyatnya segala apa yang
dipunyainya sehingga rakyatnya makmur bagaikan orang hidup di dalam surga.
0 komentar:
Posting Komentar