Pages

Jumat, 15 Februari 2013

Kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdil Aziz II


MENGHIDUPKAN SYI’AR ISLAM
Umar bin Abdil Aziz adalah khalifah dari Bani Umayyah yang berbeda dengan pembesar Bani Umayyah yang lain. Beliau membina dan membangun negara dengan mengutamakan nilai kerohanian tanpa mengabaikan nilai-nilai yang lain. Beliau juga membangun Negara Islam di Madinah sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. dan para sahabat dulu. Selain sebagai kepala Negara, beliau juga membina kerohanian umat dengan berdakwah.
Menjadi seorang Da’i
Dengan semua kebijakan yang beliau punya, beliau menyerukan kepada umat agar memahami ajaran agama yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dan sebagai tanda terima kasih kepada Allah dan Nabi Muhammad yang telah berjuang dalam berdakwah, maka umatnya harus memegang teguh ajaran Islam dalam kehidupan pribadinya. Karena bagaimanapun kondisi yang dihadapi, umat nabi Muhammad harus berpegang erat kepada Kitab dan Sunnah-Nya.
Dalam menerima ajaran tersebut, mereka harus konsekuen dan melaksanakannya sesuai dengan syariat yang diberikan. Tidak mengurangi atau menambahi ajaran tersebut, karena akan membuatnya tidak cocok dengan kemurnian ajarannya.
Khalifah Umar bin Abdil Aziz berdakwah kepada amir, gubernur dan pegawainya, raja-raja, dan kaum ahli dzimmah (non-muslim yang selamanya rukun dan berjanji damai dan mematuhi undang-undang Negara Islam. Berkat kebijaksanaan dan kepribadian beliau sebagai teladan, banyak kaum Nasrani dan Yahudi yang masuk Islam secara sukarela.
Beliau membaca laporan tentang kemaksiatan yang terjadi dimana-mana dan mengirim surat kepada gubernurnya agar dapat melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar tanpa pandang bulu. Terhadap bala tentara yang rusak moralnya pun beliau tuntun dengan nilai agama dan budi luhur, mengajak mereka kembali mengenal rasa cinta kasih, juga mengajak mereka untuk kembali mendekatkan diri kepada Tuhan. Pembinaan kerohanian Islam seperti itu dapat membuat tentaranya ingat kepada Allah dan Rasul sekaligus menjauhi perbuatan dosa yang merusak kesucian mereka. Dengan begitu panglima tentara Bani Umayyah yang awalnya terkenal bejat moralnya berubah menjadi pemimpin tentara yang alim. Mereka yang dulunya dibenci oleh rakyat, kini menjadi tentara kebanggaan rakyat.
Menjalankan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
            Politik yang dijalankan oleh Umar bin Abdil Aziz adalah politik yang berdasarkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Artinya, dalam membangun Negara beliau menggunakan nilai-nilai kebajikan dan membasmi segala kemungkaran yang dapat merusak Negara.
            Pembangunan dalam suatu Negara dapat diwujudkan dengan amar ma’ruf dan nahi munkar. Karena pembangunan yang hanya didasarkan pada amar ma’ruf akan menjadikan kota yang indah namun dengan penghuni yang rusak akhlaknya, melahirkan manusia yang hanya mementingkan kemajuan materiil lahiriah, melahirkan generasi yang bergelimang dengan nafsu serta filsafat hidup kebendaan saja. Selanjutnya filsafat itu akan melahirkan krisis moral serta krisis spiritual yang dahsyat.
            Demikian juga apabila nahi munkar tanpa amar ma’ruf akan menyebabkan tidak ada ide, tidak ada kegiatan, dan tidak ada kemajuan dalam masyarakat. Bahkan tanpa amar ma’ruf dengan ide baru, masyarakat tidak berjuang ke arah kehidupan yang sempurna dan lebih dinamis.
            Umar memecat pejabat-pejabatnya yang zalim lagi durhaka yang diangkat berdasarkan family dan kliek sisten, bukan berdasarkan keahlian, kecakapan dan moral tinggi. Beliau mengangkat pejabat baru berdasarkan effesiensi pekerjaan, the right man in the right place, yang capable, bermoral dan berkarakter tinggi, dan yang terpecaya karena kesalehan dan ketakwaannya.
            Kaum Bani Umaiyah dan kaum yang lain menuntut atas kebijaksanaan beliau. Mereka ingin diberi jabatan pula. Namun, Beliau tidak memperdulikan reaksi mereka itu. Tidak cukup sampai, bahkan beliau ambil segala harta yang bukan hak mereka yang mereka ambil dengan cara tidak halal di kala mereka mempunyai wewenang dalam pemerintahan. Beliau sita dan gabungkan dengan harta isteri beliau dan kemudian beliau masukkan ke kas Negara (Baitul Mal).
Tokoh Kerukunan dan Memberantas Bid’ah
            Di antara langkah pertama yang dilakukan beliau dalam menjalankan tugasnya ialah, membarantas bid’ah yang telah merajalela pada zaman khalifah sebelumnya, suatu perbuatan mungkar yang merupakan warisan orde lama yang diterimanya.
            Dendam khasumat kaum Bani Umaiyah yang merupakan dosa besar yang diwariskan oleh Khalifah-khalifah secara turun-temurun harus berakhir segera. Umat ini harus bersatu rukun di bawah panji-panji Kalimah Tauhid yang satu, kiblat yang satu, Kitab Al Quran yang satu, agama yang satu dan di bawah perintah Allah yang satu. Semua sengketa yang berlajan dari masa ke masa selama puluhan tahun sebelumnya, kini harus dihentikan.
            Beliau mengubah khutbah Jum’at yang selama pemerintahan bani Umaiyah menjadi ajang untuk memperolok-olok Ali bin Abi Thalib beserta anak-cucu dan kaumnya. Beliau mengeluarkan intruksi-intruksi ke seluruh dunia Islam agar membawakan khutbah dengan gaya dan pola baru, para khatib telah dihadapkan beliau kepada halaman baru dan rumus baru di seluruh negeri yang akan membuahkan alam perdamaiandan kerukunan di kalangan masyarakat kaum muslimin.
            Selanjutnya beliau bersihkan bid’ah dan kemungkaran lain seperti, melarang orang meratap-ratapi mayat yang dilakukan orang awam di rumah-rumah  ataupun di jalan-jalan, melarang kaum wanita turut mengantarkn mayat ke kubur karena biasanya perasaan yang terlalu halus dan dalam serta imannya kebanyakan lemah,dan melarang niahah. Ia peringatkan pula rakyat agar menjauhkan diri dari minum-minuman keras agar tidak terusak akal dan mentalnya karena lebih mudah untuk menggelincirkan dan menyimpangkan dari ajaran agama bagi orang Nasara.
            Untuk menjaga keadilan dan kelancaran roda organisasi dan administrasi Negara, maka beliau melarang para Gubernur dan pejabat-pejabatnyaberdagang untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun famili merka karena bisa menimbulkan hal-hal negative yang mengganggu mereka dalam menjalankan tugasnya. Tetapi beliau tidak melupakan nasib para pejabatnya dan untuk mencegang agar mereka tidak menyeleweng dan khianat, Beliau menaikkan gaji mereka demikian tinggi sampai tiga ratus dinar. Kurang lebih li ratus ribu rupiah.
Memadamkan Sengketa Antar Suku
            Umar bin Abdil Aziz juga mewarisi persengketa-persengketaan antar suku yang saling cekcok satu dengan lain dalam perebutan kekuasaan di berbagai daerah, sehingga memakan korban dan pertumpahan darah. Hal ini membuat beliau risau memikirkannya. Tetapi beliau tidak diam. Untuk mencoba mengatasi persoalan ini, maka beliau kirimlah surat kepada Gubernurnya. Dalam surat beliau yang panjang, jelas beliau mengajak para perusuh yang telah membuat kekacauan di mana-mana itu supaya mengenangkan nikmat Tuhan kepada bangsa arab yang semula adalah bangsa yang sesat, miskin-melarat dan hidup dalam persengketaan yang terus menerus. Dan mereka harus mensyukuri nikmat Tuhan yang telah mengirim seorang Rasul-Nya untuk menyelamatkan mereka dari bencana yang sedang menimpa mereka semua. Dalam surat lain beliau melukiskan bahwa rahasia kemenangan di medan pertempuran bukanlah terletak kapada kekuatan senjata belaka, tetapi kekuatan akidah dan kebersihan iman dengan menjauhkan diri dari berbuat dosa adalah lebih menentukan bagi kemenangan itu daripada senjata yang bagaimanapun hebat modernnya.
Menghadapi Kaum Khawarij
            Kaum Khawarij ialah kaum yang pada mulanya adalah pengikut Ali bin Abi Thalib yang turut berjuang dengan beliau menghadapi Bani Umaiyah. Tetapi setelah terjadi “Tahkiem” yang tidak mereka setujui putusannya itu, maka akhirnya mereka keluar dari pasukan Ali dan kemudian menyusun perlawanan kepada Ali dan kepada Mu’awiyah. Kaum Khawarij kemudian menjadi kaum yang fanatik dan amat reaksioner yang sama sekali tidak membenarkan orang lain sesama Islam kecuali diri mereka sendiri. Tidak ada pemerintahan yang mereka akui, tidak Ali dan tidak pula Mu’awiyah. Semboyan mereka satu : “Tidak ada hukum yang patut ditaati kecuali hukum Allah.
            Demikian kehebatan mereka sebagai seorang yang amat fanatic, tetapi tanpa disadari mereka pada hakikatnya mereka merupakan lawan-lawan Islam dan kaum Muslimin, sebab ajaran  merekan dan sikap yang mereka pertunjukkan dan keyakinan merka yang menganggap, bahwa semua orang di luar golongan mereka adalah kafir. Bukti bahwa kaum Khawarij adalah kaum anarki :
            Pertama, mereka memusuhi semua orang dan memaklumkan perang terhadap setiap orang yang tidak termasuk golongan mereka.
            Kedua, mereka terpecah kepada golongan yang banyak jumlahnya dan bisa bertempur karena sebab yang sangat aneh. Mereka gampang saja memberontak terhadap para pemimpin, serta mengkafirkan dan menghalalkan darahnya.
            Ketiga, mereka mengkafirkan orang lain karena sebab yang sangat rremeh ataupun tanpa sebab sam sekali.
            Banyak golongan yang mempunyai ajaran spesifik bagi golongannya. Tetapi yang paling ekstrim ialah kaum Azariqah yang dipimpin Abu Rasyid Nafi’  Ibnu Azraq. Diantara ajaran yang ekstrim itu dan merupakan bid’ah adalah :
1.      Menyatakan kafir orang-orang Islam selain dari golongan mereka dan halal membunuhnya.
2.      Menyatakan kafir orang-orang yang tidak ikut berperang.
3.      Menyatakan halal membunuh kanak-kanak dan kaum wanita dari golongan yang menantang mereka.
4.      Meniadakan hukum rajam terhadap orang yang berzina, karena hukum seperti itu tidak terdapat dalam Al-Quran.
5.      Menetapkan bahwa anak-anak dari kaum musyirikin juga akan dimasukkan ke dalam neraka bersama orang tua mereka.
6.      Taqiyah (ajaran menyelamaatkan diri) tidak boleh, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.
7.      Menetapkan kafir orang-orang yang telah berbuat dosa besar.
Umar bin Abdil Aziz menghadapi kaum Khawarij dengan cara memerintahkan Gubernuh Kufah menghadapi mereka, tetapi tidak boleh menumpahkan darah kecuali bila dalam keadaan terpaksa.
Dengan gaya diplomasi dua jalur, Umar bin Abdil Aziz dapat menundukkan kaum yang ekstrim dan radikal lagi militant yang selam ini tidak pernah menyerah kepada suatu tekanan pemerintah mana pun juga.
Kodifikasi Hadits Rasulullah
            Sejak permulaan Islam, kaum Muslimin telah mempunyai pegangan dalam menjalankan kehidupan dunia dan agama mereka, yakni Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Al-Qur’an berisi pedoman pokok dan garis besar ajaran agama serta perintah agama. Sedangkan Sunnah adalah penafsiran dan petunjuk yang lebih detail tentang pelaksanaan perintah agama.
            Perintah beribadah dan bermuamalah dalam Al-Qur’an dijelaskan oleh Hadits (Sunnah). Tanpanya, kita tidak bisa melaksanakan ibadah dengan tepat dan sempurna. Karena itu Sunnah juga dapat dikatakan sebagai tafsir Al-Qur’an. Hal itu didasarkan pada pengertian bahwa tafsir Al-Qur’an yang paling otentik ialah tafsir Al-Qur’an yang didukung dengan keterangan  atau dalil dari Sunnah sebagai penunjang kebenaran dan penjelasan isi Al-Qur’an.
Yang dimaksud dengan Sunnah adalah perkataan dan perbuatan Rasulullah serta taqrirnya (perkataan dan perbuatan orang lain yang diucapkan atau dilakukan di hadapan beliau dimana beliau bersikap diam tanpa reaksi).
Pada masanya, Rasulullah melarang mencatat Hadits karena dikhawatirkan akan tercampur dengan catatan Al-Qur’an. Kemudian masa-masa setelah itu, banyak peperangan yang terjadi dan membuat para sahabat gugur. Oleh karena itu, Hadits dibukukan. Pembukuan tersebut dilakukan setelah dibukukannya Al-Qur’an pada zaman Khalifah Usman bin Affan, yaitu pada awal kurun abad kedua atau akhir abad pertama Hijriah dengan tujuan untuk menjaga kemurniannya, juga agar terhindar dari hadits palsu.
Dalam beberapa catatan disebutkan bahwa Umar bin Abdil Aziz memberikan perintah untuk menghimpun hadits-hadits yang ada. Kemudian dengan dipatuhinya perintah tersebut, ilmu pengetahuan hadits berkembang dan timbul banyak tokoh ahli hadits yang populer hingga sekarang. Sehingga dapat dikatakan bahwa Umar bin Abdil Aziz mempunyai andil yang besar dalam penghimpunan hadits ini.




IBADAH DAN AKHLAK UMAR BIN ABDIL AZIZ
            Kebahagiaan seseorang itu bukan dilihat dari materi yang dimilikinya, namun pengabdian yang ditunjukkan dengan ibadah. Orang yang jiwanya bersih karena ibadahnya, akan melahirkan perbuatan yang terpuji pula. Hal itu juga berlaku sebaliknya. Seseorang tanpa ibadah tidak akan dapat untuk berlaku jujur dalam tugas yang diembannya.
Apakah ibadah itu?
            Ibadah diartikan sebagai suatu pengabdian yang mencakup hal-hal yang diridhai oleh Allah baik berupa perkataan ataupun perbuatan secara batin dan lahir. Begitu pula ibadah juga bisa diartikan sebagai rasa takut kepada Allah, sabar menjalankan hukum-Nya, syukur atas nikmat-Nya, ridha dengan ketentuan-Nya, berserah diri pada-Nya, takut kepada azab-Nya, dan mengharapkan rahmat dari-Nya.
            Maksud utama Tuhan menciptakan kita adalah untuk mengabdikan diri dan menyembah pada-Nya. Demikian pula bagi Umar bin Abdil Aziz. Segala amalannya selama di dunia ditujukan hanya untuk mencari ridha Illahi.
Shalatnya Umar bin Abdil Aziz
            Shalat adalah ibadah yang paling penting dan mempunyai peranan yang besar dalam pembinaan akhlak manusia. Shalat membuat diri manusia ingat dan dekat dengan Allah. Di samping itu, shalat juga dapat mencegah manusia melakukan tindakan tercela.
            Umar bin Abdil Aziz selalu disiplin dan melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan cara Rasulullah melakukannya. Demikian pentingnya shalat itu, sehingga beliau pun memerintahkan kepada para pejabat di daerah kekuasaannya untuk memperhatikan shalat dengan benar.
Doa permohonannya kepada Tuhan
            Manusia adalah makhluk yang lemah, maka disamping berusaha dan berikhtiar ia perlu meminta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa untuk menyampaikan cita-citanya. Disinilah pentingnya doa. Manusia dengan segala kelemahannya perlu untuk merendahkan diri di hadapan Tuhannya, memanjatkan doa agar segala usahanya dapat berhasil sebagaimana yang diharapkan.
            Umar bin Abdil Aziz setiap hari dan malamnya memohon kepada Allah agar usahanya berhasil dan mendapat ridha Allah di samping beliau bekerja keras dalam membangun negaranya. Ibadah beliau pun didasarkan kepada rasa cintanya kepada Allah.
Akhlak Umar bin Abdil Aziz
            Dengan latar belakang ibadah yang tinggi mutunya, Umar bin Abdil Aziz mempunyai moral, budi pekerti, akhlak, dan tingkah laku yang mulia dan terpuji. Beliau selalu mengambil tindakan berdasarkan kebenaran dan keadilan dalam semua amalannya.
Memulai dulu dengan mengucapkan salam dan 5 syarat
            Umar bin Abdil Aziz seklah pemimpin Negara tidak pernah mengharapkan penghormatan yang tinggi dari rakyatnya. Bahkan beliau mengatakan pada pengawalnya bahwa beliau adalah seseorang yang lebih patut untuk mengucapkan salam terlebih dahulu.
            Dan apabila ada seseorang yang ingin bersahabat dengannya, beliau memberikan lima prasyarat. Pertama, dia harus menyampaikan kebutuhan orang yang tidak mampu menyampaikannya secara langsung padanya. Kedua, dia harus menunjukkankeadilan yang seharusnya dilakukan. Ketiga, dia harus membantu dalam menegakkan kebenaran. Keempat, dia harus menunaikan amanah kepadanya dan orang banyak. Kelima, dia tidak boleh menggunjing seseorang di hadapannya.
Kerendahan hatinya
            Umar bin Abdil Aziz adalah seorang bangsawan. Namun beliau berjiwa kerakyataan dan rendah hati. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan beberapa peristiwa. Suatu ketika, beliau dipanggil dengan sebutan Khalifah Allah di bumi, maka beliau menolaknya. Peristiwa lainnya adalah pada saat beliau bermalam dengan menterinya yang bernama Raja’ bin Haiwah, tiba-tiba lampu menjadi rusak. Kemudian Raja’ beridiri untuk memperbaikinya, namun beliau melarang dan memperbaikinya sendiri. Beliau juga berkata bahwa tidak sopan orang yang membuat tamunya sebagai pelayan. Dan pada suatu ketika beliau meminta pelayannya untuk mengipasinya hingga tertidur. Namun pelayannya pun ikut mengantuk dan tertidur. Tatkala Umar terbangun, beliau berganti mengipasi pelayannya. Saat pelayannya terbangun, dia menjadi malu dan takut. Tetapi beliau mengatakan bahwa mereka sama kedudukannya sebagai manusia, yang juga sama merasakan kepanasan seperti halnya beliau. Begitulah beberapa contoh perbuatan beliau yang menunjukkan kerendahan hatinya.
Pemaaf dan penyantun
Tak pernah bohong
Zuhud dan Wara’
Zuhud dan wara’nya Umar bin Abdil Aziz adalah sebagai berikut:
1.      Tidak ambisi untuk mengejar pangkat dan kedudukan
2.      Sederhana dalam memakai kendaraan
3.      Sederhana dalam pakaian dan makanan
4.      Mendapat kesulitan pergi haji
5.      Mengambil apel dari mulut anaknya
6.      Tidak menerima hadiah
7.      Berhari Raya dengan air mata
8.      Takutnya kepada azab akhirat
Keadilan dan kebenarannya
1.      Memecat para pejabat yang zalim
2.      Mengembalikan hak milik yang dirampas
3.      Menghadap hakim pengadilan
4.      Mengembalikan gereja kepada kaum Nasrani
5.      Memberi kaum Mawali bagian rampasan perang
6.      Memberi nasihat kepada juru didik anak-anaknya




NEGARA YANG AMAN-MAKMUR
Keamanan dan kemakmuran adalah salah satu tujuan utama untuk membentuk suatu Negara, dan hal tersebut dapat dicapai bila pemimpin negara mempunyai sifat bijaksana, adil, jujur, serta perkasa lagi berani. Keseluruhan sifat tersebut ada pada diri Umar bin Abdil Aziz. Beliau juga dapat memenuhi syarat-syarat sebagai kepala Negara. Oleh sebab itu, Umar bin Abdil Aziz adalah suatu tipe kepala Negara yang ideal.
Dan apakah yang disebut dengan negara yang makmur itu? Sebagian besar orang berpendapat bahwa kemakmuran itu terjadi saat pemerintahan dapat memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya. Namun pada hakikatnya, sebuah negara dikatakan makmur apabila kebutuhan jasmani dan rohani rakyatnya terpenuhi secara seimbang. Hal itu dapat dilakukan secara sempurna oleh Umar bin Abdil Aziz. Sehingga pada masa pemerintahan beliau, keadaan wilayah kekuasaanya dalam keadaan aman dari orang zalim dan semua berjalan menurut proporsi yang berlaku secara adil dan wajar. Segala sesuatu terletak pada tempat yang semestinya. Begitulah suasana yang dapat menunjang dalam memakmurkan rakyat dan berjalan ke arah perubahan yang menggembirakan.




BERPULANGNYA SEORANG KHALIFAH TELADAN
Termakan racun
            Kaum Bani Umayyah menaruh dendam kepada Umar bin Abdil Aziz dikarenakan beliau mengurangi kemewahan yang biasa mereka nikmati. Seperti wali Allah yang lainnya, beliau mengetahui siapa yang memasukkan racun dalam makanannya. Namun mengetahui hal tersebut, beliau tidak menghukum orang yang telah mencoba membunuhnya. Orang itu dilepaskan dan hukuman yang didapatkannya dari hati nuraninya sendiri yang selalu mencela perbuatannya. Beliau juga meminta uang bayarannya sebesar seibu dinar.
Pesan wasiat kepada anak-anaknya
            Umar bin Abdil Aziz sakit setelah memakan makanan dengan racun tersebut. Sebelum kepergian beliau, Umar bin Abdil Aziz sempat ditanya apakah beliau tidak akan meninggalkan harta kepada anak-anaknya dan membiarkan mereka dalam keadaan miskin? Maka beliau menjawab bahwa lwbih baik baginya meninggalkan anaknya dengan kemiskinan dan masuk surga daripada meninggalkan mereka harta melainkan beliau masuk neraka. Beliau juga berpesan kepada anaknya agar menunaikan haknya atas orang Islam  maupun non-Islam yang berjanji untuk hidup rukun. Beliau juga berpesan kepada mereka agar tidak takut akan mengalami kemiskinan karena beliau telah menitipkan mereka kepada Allah.
Keajaiban di atas makam
            Pada saat keluarga dan umat Islam memakamkan beliau, ada sehelai kertas yang melayang dan jatuh dari langit dan jatuh di atas kubur beliau.  Tulisan tersebut berbunyi: “dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Jaminan keselamatan dari Allah bagi Umar bin Abdil Aziz dari sentuhan api meraka.
Harta peninggalannya
            Beliau adalah anak keturunan orang bangsawan yang kaya-raya, dan sebelum jadi Khalifah memiliki kekayaan yang belimpah-ruah. Setelah beliau meninggaldunia sebagai seorang khalifah yang zahid, dapat dikatakan bahwa semua hartanya yang banyak itu telah diserahkannya kepada Negara untuk kepentingan umum dan dia hanya berbelanja harian Cuma dua dirham saja bagaikan orang miskin layaknya. Dan waktu meninggal dunia hartanya Cuma tinggal tujuh belas Dinar yang kemudian dibagi-bagi untuk kepentingan penyelenggaraan pemakamannya seperti :
            Lima Dinar untuk kain-kafannya, dua Dinar untuk Tanah pekuburannya, sedang yang sepuluh Dinar sisanya itulah kemudian dibagi-bagikan untuk anaknya yang sebelas orang itu. Tetapi Allah S.W.T memperlihatkan kekuasaan-Nya, bahwa anak-anak Umar bin Abdil Aziz yang miskin itu kemudian menjadi hamba-hamba Allah yang saleh dan kaya-raya.
            Umar bin Abdil Aziz yang tampil ke atas panggung pemerinthan sebagai Kepala Negara yang kaya-raya, tetapi kemudian hidup sebagai seorang yang amat sederhana dan bahkan mendekati miskin. Menghadiahkan untuk rakyatnya segala apa yang dipunyainya sehingga rakyatnya makmur bagaikan orang hidup di dalam surga.

0 komentar:

Posting Komentar